Selasa, 31 Maret 2009

Kuliah Al Habbib Muzir Bin Fuad Al Musawa



“MELACAK TANGGAL KELAHIRAN RASULULLAH SAW”



T’lah terbit purnama di atas kita
rembulan yang lain pun sembunyi karenanya
Tak pernah kujumpa walau sekali
laksana indahmu, wahai kebahagiaan
(Maulid Al-Barzanji)


Allâhumma Yâ Allahu Ya Rabbi
Bijâhi Nabiyyika'l Mustafâ wa Rasûli ka'l Murtadâ
tahhir qulûbanâ min kulli wasfin yubâ'idunâ 'an Mushâhadatika wa Mahabbatika
wa amitnâ 'alassunnati wa'l jamâ'ati wash-shawqi ilâ Liqâika.
Yâ Dhal Jalâli wa'l Ikrâm.
Wa Sallallâhu 'alâ Sayyidinâ wa Maulânâ Muhammad-in
wa 'alâ âlihi wa sahbihi wa sallama taslimâ
wa'l hamdu Lillâhi Rabbi'l 'Âlamîn.

Innallaha wa Malaaikatahoo Yusalloona 'ala'n Nabiyy
Yaa ayyuhalladheena Aamanu Salloo 'alaihi wa Saallimoo Tasleemaa
Labbaik Allahumma Rabbee wa Sa'dayk
Salawaatullahi'l Barrir-Raheem wa'l Malaaikati'l Muqarrabeen
Wa'n-Nabiyyeen wa's-Siddiqeen wa'sh-Shuhadaai wa's-Saaliheen
Wa maa Sabbaha Laka min shay-in Yaa Rabba'l 'Aalameen
'Alaa Sayyidina Muhammad ibni 'Abdillah
Khaatamin Nabiyyeen wa Sayyidi'l Mursaleen
Wa Imam-i'l Muttaqeen wa Rasuli Rabbi'l 'Aalameen
Ash-Shaahidi'l Bashir-i'd-Daa'ee Ilayka
Bi-Idhnika's-Siraaji'l Muneeri wa 'Alayhissalaam.

Semesta bersenandung gembira, menyambut kedatangan kelahiran Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam tercinta, pada Senin, bulan Rabi’ul Awwal. Tanggal 12 menjelang fajar, 1436 tahun lalu, cahaya Ilahi menerangi setiap jengkal semesta raya, laksana bintang gemintang yang berkerlip indah di kepekatan malam. Laksana purnama menenggelamkan gelap dalam ranum cahaya. Laksana mentari yang mengusir malam ke peraduannya. Menyambut kelahiran bayi agung, yang akan membawa peradaban baru yang kilau-kemilau. Muhammad adalah manusia pertama yang diciptakan secara maknawi, tapi menjadi nabi terakhir yang diutus ke alam duniawi. Ucapannya adalah wahyu, langkahnya menjadi tarekat, perilakunya cermin keteladanan.

Muhammad, sang Kekasih Allah, belaian tangannya menenteramkan gundah anak-anak yatim, kemurahan hatinya menyalakan obor kehidupan janda-janda miskin, dan mengajarkan kemuliaan dalam kebersahajaan. Keagungan jiwa sang Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam diakui kawan maupun lawan. Keberaniannya menggetarkan singa padang pasir, kelembutannya laksana belaian kasih seorang ibu.

Beliau begitu dicintai penghuni langit dan bumi, hingga potongan rambut dan air ludahnya yang harum pun tak pernah sampai menyentuh bumi, karena diperebutkan sahabat-sahabatnya. Begitulah Abu Sufyan menceritakan perihal Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menjelang Fath Makkah, pembebasan kota Makkah. Tubuhnya termasyhur memancarkan keharuman alami. Jika tangannya menyentuh kepala seorang anak, orang akan segera tahu bahwa ia baru saja disentuh Rasulullah, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Semesta raya memanjatkan doa, mengucap salam dan memohonkan kasih Allah baginya. Bahkan Sang Pencipta sendiri ikut mengucapkan salam kepadanya.

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi (Muhammad). Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu sekalian untuk Nabi, dan berikan salam penghormatan untuknya.” (QS Al-Ahzab 56).

Kehadiran Muhammad di bumi adalah anugerah yang membuat butiran-butiran pasir dan debu gurun menjadi laksana mutiara. Jejak langkahnya menyejukkan padang tandus, menjadi laksana taman surga yang membangkitkan rindu untuk selalu mengunjungi. Pengetahuan yang diajarkannya terus-menerus mengalirkan hikmah dan kearifan, laksana zamzam, yang tak pernah kering sepanjang zaman.

Pemimpin manakah yang dalam keadaan sakit menjelang wafat berkata, “Wahai manusia! Barang siapa punggungnya pernah kucambuk, ini punggungku, balaslah! Barang siapa kehormatannya pernah kucela, inilah kehormatanku, balaslah! Dan barang siapa hartanya pernah kuambil, inilah hartaku, ambillah! Jangan takut akan permusuhan (akibat penuntutan balas ini), karena hal itu bukan watakku.”

Hari itu, 63 tahun setelah kelahiran Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, semua sahabat tertunduk haru mendengar pemimpin besar yang mereka cintai membuka diri untuk menerima tuntutan balas dari pengikutnya. Sebuah sikap yang menunjukkan pencapaian spiritual dan emosional tertinggi seorang manusia.

Kini, setelah setelah 14 abad beliau lahir, beliau tetap dikenang sebagai nabi yang agung, pemimpin yang adil, panglima yang gagah berani, penguasa yang penuh kasih, pedagang yang jujur, suami yang santun, dan ayah yang bijak. Beliau memang manusia, tapi bukan seperti manusia yang lain. Beliau laksana mutiara di antara bebatuan semesta.

Rabi’ul Awwal, yang artinya musim bunga yang pertama, dikenal sebagai bulan Nabi. Karena pada bulan inilah beliau lahir, tepatnya hari Senin. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW saat ditanya oleh seorang sahabat mengenai kebiasaan beliau berpuasa di hari Seni, “Hari itu adalah hari kelahiranku, hari aku diangkat sebagai rasul atau pertama kali aku menerima wahyu." (HR Muslim).

a. Tanggal Kelahiran

Namun kemudian muncul pertanyaan, tanggal berapakah beliau lahir. Jumhur ulama dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam lahir pada tanggal 12, tapi banyak pula yang berpendapat bahwa Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam lahir pada tanggal 9, bahkan tanggal 17, seperti pendapat kalangan Syi’ah Imamiyyah. Baru-baru ini beredar sebuah buku berjudul Ya Allah... Benarkah Sejarah Ini?, yang ditulis oleh Drs. Aep Syaifullah, berdasarkan pendapat para ulama hadits, diterbitkan oleh Penerbit Shuhuf.

Salah satu babnya membahas ihwal lahir dan wafatnya Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
Di situ dikatakan, pendapat bahwa Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal perlu dikaji ulang, karena bertolak belakang dengan fakta sejarah, hadits, dan ilmu pengetahuan. Pendapat yang menyatakan bahwa Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal itu, walau sangat terkenal, disandarkan pada riwayat yang lemah, yaitu Ibnu Ishaq.

Menurut ulama-ulama ahli hadits, Ibnu Ishaq dianggap seorang yang lemah dalam riwayat-riwayatnya. Sementara pendapat yang shahih dan kuat mengenai tanggal kelahiran Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam ialah, beliau lahir pada Senin, 9 Rabi’ul Awwal, tahun Gajah. Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Katsir, Ibnu Qayyim, dan Ibnu Taimiyah.

Pendapat ini jgua didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli falak atau astronomi Mesir yang terkenal, yaitu Mahmud Pasya, yang mencoba menentukan tanggal gerhana matahari dan gerhana bulan yang terjadi pada zaman Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam sampai zamannya. Berdasarkan kajiannya, hari Senin tidak mungkin bertepatan dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Ia mengemukakan beberapa alasan untuk mendukung hasil kajiannya.

Sebagian alasan yang dikemukakan oleh Mahmud Pasya adalah, pertama, dalam Shahih Bukhari disebutkan, ketika putra Rasulullah SAW, Ibrahim, wafat, telah terjadi gerhana matahari pada tahun ke-10 setelah hijrah. Dan Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam ketika itu berusia 63 tahun. Kedua, berdasarkan kaidah perkiraan falak, diketahui bahwa gerhana matahari yang terjadi pada tahun ke-10 setelah hijrah itu bertepatan dengan tanggal 7 Januari 632 Masehi, pukul 8.30 pagi. Ketiga, berdasarkan pada perkiraan ini, seandainya diundurkan 63 tahun ke belakang, mengikut tahun qamariyah, kelahiran Nabi SAW jatuh pada tahun 571 Masehi.

Berdasarkan perkiraan yang telah dibuatnya, tanggal 1 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan tanggal 12 April 571 Masehi. Keempat, meskipun terjadi perselisihan pendapat mengenai tanggal kelahiran Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, semua pihak sepakat mengatakan bahwa hari kelahiran Nabi SAW adalah hari Senin, bulan Rabi’ul Awwal. Dan ternyata, hari Senin itu jatuh pada tanggal 9 Rabi’ul Awwal, bertepatan dengan tangal 20 April 571 Masehi. Bukan 12 Rabi’ul Awwal.

b. Bulan dan Tahun

Selain perbedaan mengenai tanggal kelahiran Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, ada pula perbedaan mengenai bulan dan tahunnya. Bahkan juga peristiwa-peristiwa penting lainnya. Mengenai bulan kelahiran, ada yang mengatakan Muharam, Shafar, Rajab. Tapi ada pula yang mengatakan bulan Ramadhan. Sementara tahunnya, ada yang mengatakan tahun Gajah, 15 tahun sebelum tahun Gajah, 30 tahun setelah tahun Gajah, atau 70 tahun setelah tahun Gajah.

Namun kebanyakan pendapat menyatakan, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam lahir pada hari Senin 12 Rabi'ul Awwal tahun Gajah. Tahun Gajah adalah saat Raja Abrahah, penguasa negeri Habasyah (Etiopia sekarang), dan pasukan bergajahnya, berniat menghancurkan Ka’bah, tetapi gagal. Itu terjadi 53 tahun sebelum hijrah (secara matematis-astronomis dapat dinyatakan sebagai tahun 53 H).

Sehingga saat kelahiran Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam tersebut bertepatan dengan hari Senin 5 Mei 570 M. Lalu, kapankah tepatnya pengangkatan beliau menjadi rasul? Tahun kejadiannya umumnya disepakati pada saat Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam berumur 41 tahun, atau tahun Gajah ke-41 (tahun 13 H). Hanya tentang tanggal dan bulannya tidak ada kesepakatan. Menurut Jabir dan Ibnu Abbas seperti tersebut di atas, itu terjadi pada hari Senin 12 Rabi'ul Awwal. Bertepatan dengan Senin 24 Februari 609 M. Isyarat lainnya ada pada QS 2: 185 bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan.

Bila harinya mengacu pada hadits yang diriwayatkan Imam Muslim serta pendapat Jabir dan Ibnu Abbas, 17 Ramadhan 13 H tersebut bertepatan dengan hari Senin 25 Agustus 609 M. Hasbi Ash Shiddieqy dalam pengantar Tafsir Al Bayaan menyatakan ayat nubuwah (pengangkatan sebagai nabi) pertama kali turun pada bulan Rabi'ul Awwal dengan lima ayat pertama surah Al-Alaq. Kemudian ayat risalah (pengangkatan sebagai rasul) turun pada 17 Ramadhan dengan beberapa ayat awal surah Al-Muddatstsir.

c. Peristiwa-peristiwa Lain

Peristiwa Isra Mi’raj, saat mulai diwajibkannya shalat lima waktu, pun tidak ada kesepakatan kapan terjadinya. Sebagian besar mengikuti pendapat Ibnu Katsir dari riwayat yang tidak shahih isnadnya, yakni bahwa Isra Mi'raj terjadi pada 27 Rajab 1 H (satu tahun sebelum Hijrah). Itu berarti terjadi pada hari Rabu 15 Oktober 620. Tetapi bila mengikuti pendapat Jabir dan Ibnu Abbas bahwa Isra Mi'raj terjadi pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal, berarti terjadi pada 12 Rabi’ul Awwal 3 H (tiga tahun sebelum Hijrah), yang bertepatan dengan Senin 6 November 618.

Peristiwa Hijrah Rasulullah, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam terjadi pada bulan Rabi'ul Awwal tahun 13 Bi’tsah (13 tahun setelah pengangkatan sebagai rasul). Berangkat pada 2 Rabi’ul Awwal dan tiba pada 12 Rabi'ul Awwal. Saat tiba di Madinah 12 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan hari Senin, 5 Oktober 621. Ini sesuai dengan pendapat Jabir dan Ibnu Abbas bahwa harinya Senin. Beberapa penulis riwayat Rasulullah SAW merancukan saat hijrah tersebut dengan tahun baru Hijriyyah pertama.

Haekal dan Al-Hamid Al-Husaini menyebutkan, peristiwa Hijrah terjadi pada bulan Juli. Haekal menyatakan, Rasulullah tiba di Madinah hari Jum’at. Sesungguhnya bulan Juli adalah tahun baru 1 Muharram 1 H yang jatuh pada hari Jum’at, 16 Juli 622. Puasa Ramadhan mulai diwajibkan pada hari Senin 2 Sya’ban 2 H atau 30 Januari 624 M. Itu berarti, puasa Ramadhan pertama terjadi pada bulan Februari-Maret, dengan suhu yang relatif sejuk dan panjang hari termasuk normal (panjang siang hari sekitar 12 jam).

c. Tanggal Wafat

Hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah ditandai dengan turunnya QS 5: 3, yang menyatakan bahwa Allah telah menyempurnakan agama Islam dan meridhainya. Ayat itu turun saat wukuf di Arafah 9 Dzulhijjah 10 H, yang bertepatan dengan Jumat 6 Maret 632. Mungkin ini berkaitan dengan sebutan haji akbar bila wukufnya jatuh pada hari Jum’at. Tiga bulan setelah turunnya ayat tersebut Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam wafat pada 12 Rabi’ul Awwal 11 H. Analisis astronomis menyatakan, 12 Rabi'ul Awwal mestinya jatuh pada hari Sabtu 6 Juni 632.

Namun banyak yang berpendapat bahwa Rasulullah wafat pada hari Senin, itu berarti tanggal 8 Juni 632. Perbedaan dua hari tidak dapat dijelaskan akibat terjadinya istikmal (penggenapan menjadi 30 hari) bulan Shafar. Membicarakan kapan tepatnya hari kelahiran Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, juga peristiwa-peritiwa penting dalam sejarah kehidupan beliau, bukanlah hal mudah. Karena ketika itu orang-orang Arab belum mempunyai tradisi mencatat.

Perhatian mengenai pentingnya mencatat baru muncul pada pemerintahan Khalifah Sayyidina Umar bin Khaththab, tepatnya pada tahun 638 Masehi. Ketika itu Umar ingin menjadikan penanggalan Hijriyyah sebagai sistem penanggalan resmi pemerintahan Islam. Tapi muncul masalah, ketika para sahabat ingin menjadikan hari kelahiran Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam sebagai patokan awal sistem penanggalan Hijriyyah. Tidak ada satu pun di antara mereka yang ingat kapan persis Baginda Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dilahirkan. Yang mereka ingat, ketika beliau lahir, ada beberapa peristiwa yang mengiringinya, di antaranya penyerangan pasukan Gajah dari negeri Habasyiah terhadap Ka’bah, yang kemudian diabadikan sejarah Islam sebagai tahun Gajah.

Namun begitu, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang astronomi, serta patokan-patokan yang terdapat dalam hadits Rasulullah SAW, di antaranya hadits tentang puasa hari Senin, yang senantaisa beliau lakukan secara rutin, para ulama berhasil menentukan kapan Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam lahir, wafat, dan sebagainya.

Khusus mengenai kelahiran Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, Mursyid Mulia Halaqah-15, yakni Al Allamah Al Habib Mundzir Bin Fuad Al Musawa secara jelas terperinci diterangkan oleh Al Mursyid di Majelis Rasulullah SAW, dapat dilihat pada website www.majelisrasulullah.org, Al Mursyid lebih jauh menjelaskan bahwa perbedaan pendapat tentang kelahiran Nabi SAW sudah berlalu belasan abad yang silam, dan itu sudah dibahas oleh ribuan muahdditsin.

Menurut jumhur ulama dan muhadditsin adalah 12 Rabi'ul Awwal. Walaupun ada pendapat sebagian kecil yang mengatakan 10 Muharram, dan ada pendapat lain lagi yang mengatakan di bulan lain. Namun semua pendapat itu dhaif. Yang mu'tamad, atau yang dijadikan sandaran oleh sebagian besar ulama, adalah 12 Rabi’ul Awwal.Para ulama tersebut bukan sembarang ulama. Mereka mempunyai kedalaman ilmu dan keluasan wawasan yang sudah teruji. Bahkan banyak di antara mereka yang bergelar “Al-Hafidh”, penghafal jutaan hadits.


di risalahkan kembali di Halaqah-15 As-Sakrullah Tambun Selatan
oleh Musyarif Halaqah-15 Majlis Rasulullah SAW

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar