Selasa, 31 Maret 2009

Kuliah Al Habbib Muzir Bin Fuad Al Musawa



“KEAGUNGAN AKHLAK RASULULLAH SAW”

Allahumma lawlaa Anta mahtadaynaa
Wa laa tasaddaqnaa walaa sallaynaa
Fa anzilan sakeenatan 'alaynaa
Wa thabbitil aqdaama in laaqaynaa
Innal a'daa'a qad baghaw 'alaynaa
Idhaa araadu fitnatan abaynaa
Nahnu'lladheena baaya'u Muhammad-aa
'Ala'l Jihadi maa baqeena abadaa

Allahumma innahu laa khayra illa khayru'l Aakhirah
Wa Baarik fi'l Ansari wa'l Muhajirah

Saudaraku, islam sampai kepada kita saat ini tidak lain berkat jasa Baginda Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam sebagai sosok penyampai risalah Allah Subhana Wa Ta'ala yang benar dan di ridhoi.

Dan nanti di padang mahsyar, tiap umat islam pasti akan meminta syafa’at dari beliau, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan menginginkan berada di barisan beliau, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Namun, pengakuan tidaklah cukup sekedar pengakuan.

Pasti yang mengaku umat beliau, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam akan berusaha mengikuti jejak beliau dengan jalan mengikuti sunnah-sunnah beliau dan senantiasa membasahi bibir ini dengan mendo’akan beliau dengan cara memperbanyak bersholawat kepada beliau, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.

Sejarah tak akan mampu mengingkari betapa indahnya akhlak dan budi pekerti Rasulullah tercinta, Sayyidina Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa sallam hingga salah seorang istri beliau, Sayyidatina A’isyah Rodhiyallahu anha mengatakan bahwa akhlak Rasulullah adalah “Al-Qur’an”.

Tidak satu perkataan Rasulullah merupakan implementasi dari hawa nafsu beliau, melainkan adalah berasal dari wahyu ilahi. Begitu halus dan lembutnya perilaku keseharian beliau. Rasulullah, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam adalah sosok yang mandiri dengan sifat tawadhu’ yang tiada tandingnya. Beliau pernah menjahit sendiri pakaiannya yang koyak tanpa harus menyuruh istrinya. Dalam berkeluarga, beliau adalah sosok yang ringan tangan dan tidak segan-segan untuk membantu pekerjaan istrinya di dapur.

Selain itu dikisahkan bahwa beliau tiada merasa canggung makan disamping seorang tua yang penuh kudis, kotor lagi miskin. Beliau adalah sosok yang paling sabar dimana ketika itu pernah kain beliau ditarik oleh seorang badui hingga membekas merah dilehernya, namun beliau hanya diam dan tidak marah.

Dalam satu riwayat dikisahkan bahwa ketika beliau mengimami sholat berjamaah, para sahabat mendapati seolah-olah setiap beliau berpindah rukun terasa susah sekali dan terdengar bunyi yang aneh. Seusai sholat, salah seorang sahabat, Sayyidina Umar bin Khatthab bertanya, “Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah baginda menanggung penderitaan yang amat berat. Sedang sakitkah engkau ya Rasulullah?

“Tidak ya Umar. Alhamdulillah aku sehat dan segar.” Jawab Rasulullah.

“Ya Rasulullah, mengapa setiap kali Baginda menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi-sendi tubuh baginda saling bergesekkan? Kami yakin baginda sedang sakit”.

Desak Sayyidina Umar penuh cemas.

Akhirnya, Rasulullahpun mengangkat jubahnya. Para sahabatpun terkejut ketika mendapati perut Rasulullah SAW yang kempis tengah di lilit oleh sehelai kain yang berisi batu kerikil sebagai penahan rasa lapar. Ternyata, batu-batu kerikil itulah yang menimbulkan bunyi aneh setiap kali tubuh Rasulullah SAW bergerak.

Para sahabatpun berkata, “Ya Rasulullah, adakah bila baginda menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya untuk tuan?”.

Baginda Rasulullah pun menjawab dengan lembut, “Tidak para sahabatku. Aku tahu, apapun akan kalian korbankan demi Rasulmu. Tetapi, apa jawabanku nanti dihadapan Allah, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya? Biarlah rasa lapar ini sebagai hadiah dari Allah buatku, agar kelak umatku tak ada yang kelaparan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti".

Teramat agung pribadi Rasulullah, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam sehingga para sahabat yang ditanya oleh seorang badui tentang akhlak beliau, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam hanya mampu menangis karena tak sanggup untuk menggambarkan betapa mulia akhlak beliau, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Beliau, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia dan sebagai suri tauladan yang baik sepanjang zaman.

Saudaraku, sungguh kehadiran Rasulullah, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia lewat segala hal yang beliau contohkan kepada umat manusia. Beliau tidak pernah pandang bulu dalam hal menghargai manusia, penuh kasih sayang, tidak pernah mendendam, malahan beliau pernah menangis ketika mengetahui bahwa balasan kekafiran adalah neraka yang menyala-nyala hingga menginginkan umat manusia untuk meng-esakan Allah Subhana Wa Ta'ala.

Cukup kiranya beliau yang jadi suri tauladan kita, umat islam khususnya yang hari ini sebagian sudah sangat jauh dari akhlak Rasulullah, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, baik dalam tindakan maupun perkataan yang menyejukkan. apa yang dikatakan oleh seorang sastrawan Pakistan, Muhammad Iqbal dalam salah satu karyanya dapat kita jadikan renungan bersama dimana beliau berkata: “Barangsiapa yang mengaku umat Nabi Muhammad, hendaklah berakhlak seperti beliau (Nabi Muhammad)”.

Dalam salah satu hadits dikatakan bahwa “Belum beriman seseorang sehingga aku (Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam) lebih dicintainya daripada ayahnya, anak-anaknya dan seluruh manusia”(HR. Bukhari).

Kita tidak tahu apakah nanti akan di akui Rasulullah, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam sebagai umatnya atau tidak kelak di yaumil kiamah. Namun satu yang pasti bahwa semua ingin berada di barisan beliau. maka, marilah kita sama-sama berusaha untuk mengikuti akhlak beliau, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam semampu diri kita, sebagai suri tauladan kita yang utama, memperbanyak ucapan sholawat untuknya, membela sunnahnya, bukan malah membelakanginya (mari berlindung dari hal demikian), sebagai bagian dari rasa cinta kita terhadapnya.

Saudaraku, mari kita sampaikan salam dan sholawat kepada beliau, Nabiyuna Sayidina Maulana Musthafa Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang dengannya kita akan beroleh cinta dan Syafa’atnya kelak di yaumil mahsyar. insya Allah…Amiin.

Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shohbihi ajma’iin…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar